Bincang-bincang DW Inovator

Hari Rabu, 6 Juni 2018, pukul 11-12 waktu Bonn, saya mengisi acara bincang-bincang di grup DW Inovator. Berikut saya salin hasil acara tersebut sebagai dokumentasi. Semoga bermanfaat.

Diskusi di DW Inovator link


DW Inovator: Mba Lenny, sebelum kita bahas penelitian yang Mba lakukan di Bonn, untuk perkenalan, bisa cerita sedikit mengenai Mba?

Sejak tahun 2014, saya menjadi peneliti muda atau mahasiswi doktoral di Center for Development Research (ZEF), University of Bonn, Jerman. Sebelumnya saya adalah staf pengajar di Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung (SBM-ITB). Latar belakang akademik saya memang bukan pakar tata kota (planologi), tetapi cukup interdisipliner. Saya lulus dari jurusan Teknik Industri di ITB dan mendapat gelar master di Management Science.

Penelitian doktoral saya kali ini sebenarnya melanjutkan penelitian master mengenai berbagi pengetahuan (knowledge sharing) dengan objek studi yang lebih luas (kota). Saya ingin mengetahui bagaimana peran komunitas yang aktif berbagi pengetahuan di Bandung dalam membentuk wacana Bandung sebagai kota kreatif.

Penelitian saya menunjukkan bahwa komunitas bisa menjadi jembatan antara masyarakat dengan pemerintah kota, pelaku bisnis dan pemegang kepentingan lain di Bandung. Sehingga, melalui komunitas, masyarakat bisa berperan aktif menentukan arah pembangunan kota, sekaligus membawa perbaikan untuk diri dan lingkungannya.

Member DW Inovator: Masyarakat dan lingkungan, menyatupadukannya bagaimana yach mba lenny ??

Halo, terimakasih atas pertanyaannya. Menurut saya masyarakat dan lingkungan itu adalah merupakan satu kesatuan. Lingkungan mempengaruhi pola kehidupan masyarakat dan masyarakat juga yang membentuk bagaimana lingkungan di sekitarnya. Kalau maksud Mas adalah membuat masyarakat lebih peduli untuk memperbaiki keadaan lingkungan di sekitarnya, ya banyak sebenarnya yang bisa kita lakukan. Dimulai dari diri sendiri, dari yang kecil, dan dari sekarang 

DW Inovator: Mba Lenny, Bandung berupaya menjadi sebuah kota kreatif. Bisa jelaskan sedikit, apa yang dimaksud dengan kota kreatif?

Bandung sebagai kota kreatif dapat dilihat sebagai kota yang sejak dulu sudah kreatif, kota yang saat ini kreatif, dan kota yang ingin menjadi kreatif. Dari studi yang saya lakukan, sejarah menunjukkan kreativitas di Bandung termanifestasi dalam berbagai bentuk, di antaranya yang saya tulis dalam penelitian adalah berupa budaya hiburan, pengembangan intelektual, perjuangan kaum tertindas, kotra budaya, dan kewirausahaan. Sedangkan Bandung sebagai kota yang saat ini kreatif, berdasarkan penelitian saya, dapat diartikan utamanya dari tiga perspektif: kota yang memacu kegiatan ekonomi kreatif, kota yang memilih ‘kreatif’ sebagai branding atau ciri khasnya, dan kota yang menjadikan kreativitas sebagai identitas sosialnya. Pengertian yang terakhir yang ingin menjadi kreatif tertuang dalam 10 Prinsip Kota Kreatif yang dicanangkan di Creative Cities Conference tahun 2015 lalu di Bandung.

DW Inovator: Bandung menjadi salah satu dari lima kota di Indonesia yang memiliki sistem pemerintahan terbuka, di mana warga bisa terlibat aktif sebagai penentu kebijakan kota. Menurut pengamatan Mba Lenny, seberapa besar atau seberapa jauh keterlibatan masyarakat dalam menunjang konsep ini?

Pemerintah kota sejak tahun 2013 banyak sekali membangun infrastruktur yang mendukung sistem pemerintahan terbuka, terutama dari sisi daya dukung informasi teknologi. Saya mencatat di bulan Juni 2017, ada total 351 aplikasi yang sedang dibangun pemerintah kota Bandung (saat itu, 73 di antaranya aktif dan sisanya masih dalam proses pembangunan). Sejauh ini yang saya lihat, masyarakat golongan menengah yang paling aktif terlibat dalam proses menuju sistem pemerintahan terbuka melalui aplikasi ini, dikarenakan akses mereka terhadap internet dan kepemilikan gawai. Merekalah yang aktif melaporkan kejadian di lapangan, berbagi informasi perkembangan terbaru mengenai pembangunan kota, juga termasuk melancarkan kritik terhadap kinerja pemerintah.

Besar harapan saya, masyarakat menengah ini dapat menyuarakan hak dari kelompok yang terpinggirkan seperti kelompok masyarakat miskin dan difabel, serta dapat juga meraih golongan atas untuk lebih peduli terhadap pembangunan (sosial, ekonomi dan lingkungan) di Bandung dan sekitarnya

DW Inovator: Mba Lenny, mungkin banyak yang berniat untuk juga terlibat untuk berpartisipasi mengembangkan kota sebagai wilayah yang lebih ramah lingkungan dan juga ramah penduduk. Kira-kira langkah sederhana apa yang pertama harus dilakukan?

Menurut pendapat saya, yang paling mudah adalah mulai dari diri sendiri, dari yang kecil, dan dari sekarang . Mari mulai dari sekarang belajar untuk sedikit-sedikit mengubah gaya hidup menjadi lebih ramah lingkungan dan ramah penduduk. Kurangi sampah,pilah sampah dari rumah, gunakan bahan dan peralatan harian yang lebih ramah lingkungan, jadilah konsumen yang sadar lingkungan dengan memilih berbelanja di toko/tempat yang juga lebih ramah lingkungan. Tumbuhkan empati terhadap sekeliling dengan lebih banyak mengenal penduduk sekeliling dari latar belakang yang beragam. Sehingga kita bisa mengkontribusikan waktu, kesempatan, tempat, keahlian, barang-barang, atau apa saja untuk perbaikan keadaan di sekitar kita.

Jika memungkinkan, bisa bergabung dengan komunitas yang berada di sekitar pusat aktivitas harian (rumah, sekolah, kantor, dan lainnya) atau menginisiasi komunitas sendiri. Biasanya, jika dilakukan bersama, upaya perbaikan lingkungan bisa berjalan lebih konsisten dan berkelanjutan karena bisa saling menyemangati dan melengkapi 

Member DW Inovator: Hay Mba Lenny, mau tanya bagaimana konsep pembangunan berkelanjutan yang baik dengan mengurangi dampak lingkungan yang buruk (pencemaran lingkungan dalam proses pembangunan) seperti di Indonesia yang sedang gencar dalam pembangunan infrastruktur?

Terimakasih atas pertanyaannya. Pembangunan berkelanjutan, dalam pengertian saya adalah pembangunan yang menempatkan kepentingan masyarakat kini dan generasi yang akan datang termasuk di antaranya lingkungan yang memang sebenarnya satu kesatuan dengan siapapun yang tinggal di dalamnya. Dalam kerangka pembangunan infrastruktur untuk melayani kebutuhan penduduk Indonesia, sebenarnya pemerintah di berbagai tingkat (nasional dan daerah) sudah memiliki peraturan-peraturan yang dimaksudkan untuk mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan. Hanya, yang banyak terjadi adalah peraturan yang ada tidak ditaati sepenuhnya, dan pelanggaran terhadap peraturan juga tidak diberi sanksi yang sesuai.

Maka, yang perlu diperhatikan adalah penegakan hukum dan peraturan tersebut. Masyarakat berperan melakukan semacam kontrol sosial terhadap pelaksanaan peraturan dan sebaiknya bisa turut serta melaporkan segala bentuk penyelewengan dan pelanggaran kepada pihak yang berwajib. Di tengah keterbukaan informasi seperti ini, cukup banyak kanal yang bisa dipilih untuk menyuarakan hal-hal tersebut. Misal, salah satu contohnya adalah dengan mendukung organisasi aktivis lingkungan hidup seperti Walhi, atau juga terlibat aktif di komunitas yang fokus pada kegiatan ramah lingkungan di sekitar tempat tinggal Anda.

Member DW Inovator: Bandung perlu terobosan dalam hal pengelolaan sampah yg lebih kreatif nih.. Apa iya Bonn belajar dari Bandung? 

Terimakasih atas komentarnya. Kalau tentang sampah, sebenarnya Bandung yang bisa belajar banyak dari Bonn. Namun, mengenai hal-hal lain, misalnya kegiatan komunitas, kota Bonn barangkali bisa belajar dari Bandung yang sangat aktif komunitasnya.

Member DW Inovator: oh ya, apakah suatu demografi di suatu wilayah dapat mempengaruhi dalam pembangunan dan tata kota kreatif? dapat diberikan contoh yang rill ngga Mba Lenny Rosadiawan?

Menurut saya demografi di suatu wilayah dapat mempengaruhi pembangunan dan tata kota (tidak hanya dalam kerangka kota kreatif). Misalnya di Bandung, yang 70% penduduknya berusia di bawah 40 tahun, punya karakteristik seperti anak muda, mayoritas penduduknya dinamis, mobilitas tinggi dan punya banyak energi untuk disalurkan. Karakter demografi inilah yang sebenarnya menjadi salah satu sebab menjamurnya komunitas di Bandung, karena banyak pemuda yang berkegiatan.

Member DW Inovator:  menurut Mba Lenny Rosadiawan, bagaimana cara yang terbaik untuk meningatkan kualitas SDM masyarakat dalam mendukung pembangunan, terutama mengenai penggunaan teknologi? apakah dengan standarisasi atau bagaimana. Mengingat di Indonesia banyak masyarakat yang melakukan urbanisasi dan dikota mereka menjadi buruh kasar, mereka datang hanya berbekal tenaga yang dimilikinya.

Terimakasih pertanyaannya, bagus sekali. Ini juga menjadi pemikiran saya dan pastinya banyak penentu kebijakan di pemerintahan. Menurut saya, pembangunan SDM masyarakat berarti memperluas pilihan hidup untuk setiap orang. Sehingga urbanisasi adalah proses yang dilakukan dengan sadar, bukan terpaksa karena tidak ada lahan pekerjaan di tempat asal. Salah satu cara utama untuk memperluas pilihan dan membangun SDM adalah melalui pendidikan, formal dan non formal, dan pelatihan keahlian yang beragam. Hal tersebut idealnya bisa dilakukan di tempat asal (luar kota) maupun kota tujuan urbanisasi.

Member DW Inovator: Saya tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. nah, kebetuan di kota saya terdapat masalah dengan pembangunan trotoar, dimana trotoar sebelumnya diperbaiki lagi namun bukannya nambah bermanfaat malah banyak protes darii masyarakat. memang secara estetika trotoarnya lebih bagus tapi di sisi lain trotoar tersebut licin saat digunakan karena menggunakan kerami, jadi kalo trotoar tersebut basah potensiya lebih membahayakan mengingat sifat keramik yang licin dan kedap air. sudah banyak korban dari trotoar tersebut sehingga protes pada pemerintah daerah setempat. pertanyaannya Mba Lenny Rosadiawan, apa yang harus dilakukan oleh pemda setempat dalam menanggulangi masalah tersebut? memngingat juga tentang dana pemda juga tidak bisa merombak secara toatal trotoar tersebut.

Mengenai kasus trotoar di Purbalingga, sebenarnya bisa jadi salah satu contoh bentuk pembangunan yang mementingkan estetika di atas fungsi, yang tentunya bukan sesuatu yang baik untuk masyarakat. Menurut pendapat saya pribadi, pemerintah bertanggung jawab atas keselamatan warganya terutama ketika menggunakan sarana publik yang disediakan pemda. Oleh karena itu, pemda harus mengupayakan untuk mengembalikan fungsi trotoar yang aman dan nyaman, serta di kemudian hari melakukan perancangan yang lebih baik agar hal ini tidak terulang kembali.

Member DW Inovator: Mbak Lenny Rosadiawan, Saya mau tanya kira2 sejak kapan Bandung bermetamorfosis jadi Kota kreatif? Misal nya kota saya Kota Bekasi mau jadi seperti itu, apa saja tabapannya menurut mbak?

Terimakasih atas pertanyaannya. Seperti yang saya telah jelaskan di komentar sebelumnya, Bandung itu sudah, sedang dan ingin menjadi kota kreatif. Sudah dikatakan kreatif dengan budayanya yang sejak dibangun sebagai kota oleh Belanda sudah lekat dengan hiburan, pengembangan intelektual, pergerakan pemuda dan lainnya. Saat ini memang branding kota nya lebih populer sebagai kota kreatif karena mendapat pengakuan dari pihak luar, misal di level internasional sebagai kota desain anggota dari UNESCO Creative City Network di tahun 2015. Namun, menurut saya, Bandung juga belum bisa dikatakan betul-betul kota kreatif, jika mengacu pada 10 prinsip kota kreatif yang dicanangkan di Creative City Conference tahun 2015. Saya berpendapat setiap kota idealnya bisa mendefinisikan sendiri bentuk kreativitasnya sesuai dengan potensi dan karakteristik masyarakatnya, dan tidak harus mencontoh pada kota yang lain. Kota Bekasi bisa menggali potensi kreativitasnya sendiri dan menentukan tahapan metamorfosisnya. Sebagai bahan pertimbangan, bisa melihat ke 10 Prinsip Kota Kreatif ICCN yang ada di link ini http://www.iccn.or.id/. Semoga menjawab ya

Member DW Inovator: Mbak lenny saya mau tanya selama ini disemua kota besar sampah plastic menjadi masalah, sudah adakah rencana penghapusan kantong plastik di kota anda apa solusinya.

Halo Mas Zul, ya saya setuju tentang masalah yang ditimbulkan oleh sampah plastik. Tanggal 21 Februari 2016 lalu, Pemerintah Kota Bandung memberlakukan peraturan kantong plastik berbayar di supermarket, sesuai dengan aturan yang dibuat di Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Menurut BPLH Kota Bandung, setelah tiga bulan penerapan peraturan itu, sampah plastik di Bandung berkurang 42 persen. Namun sayangnya, berita terakhir yang saya baca kebijakan kantong plastik berbayar ini berakhir masih di tahun yang sama (2016) karena ada keberatan dari pihak Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo). Berhubung saya selama empat tahun terakhir ini tidak tinggal di Bandung, maka saya tidak mengetahui bagaimana kelanjutan pelaksanaan kebijakan tersebut. Menurut saya, masyarakat sebagai konsumen dan pengguna punya andil besar terhadap pengurangan penggunaan kantong plastik di wilayah tempat tinggalnya. Jika saja masyarakat mau sedikit repot membawa tas dan wadah belanja sendiri, maka permintaan (demand) terhadap kantong plastik akan drastis berkurang. Kita bisa mulai dari diri sendiri dan dari sekarang dengan membawa tas belanja sendiri dan memilih tempat belanja yang juga mendukung kebijakan ini. Di Bandung misalnya, ada banyak tempat belanja yang menjual tas belanja kain yang bisa dipakai ulang, menawarkan kardus untuk membungkus belanjaan, dan bahkan memberikan potongan harga jika kita belanja dengan tas belanja sendiri. Sementara pemerintah juga berkutat dengan penyusunan kebijakan, mari dukung dengan solusi yang dimulai dari diri sendiri, dari yang kecil dan dari sekarang.

Member DW Indonesia: Perkembangan kota..bnyk merubah lahan subur persawahan ber alih fungsi jadi perumahan dan industri…di mn tempatsemua sama….Dan hampir semua Kota di Indonesia juga menjadi penghasil sampah terbesar beserta menjadi tempat pencemaran udara, tanah dan air

Saya coba jawab yang ini ya. Ya saya setuju memang kenyataannya, pada umumnya kota, tidak hanya di Indonesia, cenderung merubah lahan subur persawahan menjadi pusat aktivitas dan perumahan serta menjadi penghasil sampah terbesar dan pencemaran udara, tanah dan air. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan yang meningkat dari warga kota itu sendiri. Pada suatu pertemuan internasional yang saya hadiri, pernah dibahas oleh para ahli tata kota mengenai sulitnya menyeimbangkan daya tarik kota dengan daya dukung kota. Banyak kota berhasil menjadi tempat tujuan hidup orang-orang dari luar kota tetapi gagal menyediakan lingkungan yang bersih, aman, dan nyaman.

Sama dengan yang saya katakan di komentar sebelumnya, masyarakat punya peran besar mengurangi pencemaran dan membuat lingkungan menjadi lebih sehat dan baik. Misalnya, dengan sebisa mungkin mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang mengeluarkan emisi. Untuk jarak dekat bisa jalan kaki atau naik sepeda, naik kendaraan umum, atau jika pun naik kendaraan pribadi bisa sharing bersama teman. Sebisa mungkin mengurangi penggunaan bahan kimia untuk keperluan harian, misal mengganti pembersih dengan bahan yang lebih alami. Kemudian sebanyak mungkin menanam pohon atau tanaman lain yang bisa menyaring polusi udara di tempat tinggal atau pusat aktivitas (kantor, sekolah, tempat ibadah, dll). Saya yakin ada banyak yang bisa kita lakukan dalam ruang kendali kita (circle of control) yang bisa mempengaruhi situasi di lingkaran perhatian kita (circle of concern). Inisiatif baik yang kecil namun konsisten dapat menular, sehingga menjadi suatu gerakan masif yang punya dampak yang besar. Mari menjadi kreatif untuk mensolusikan masalah bersama di kehidupan kota dengan mencari apa yang bisa kita mulai lakukan sekarang.

Member DW Indonesia: Samarinda permasalahannya terlalu banyak. Barang kali ga akan pernah terpecahkan oleh siapa pun pemimpin daerahnya. Mulai dari banjir, sampah, kumuh, macet, kesemerawutan kota yg masih tergolong kota kecil, jukir liar merajalela, anak jalanan, pengemis, dan masih banyak permasalahan yg lain

Kota adalah tempat tinggal kita bersama. Permasalahan kota adalah masalah bersama kita semua. Saya menganjurkan agar tidak selalu tergantung pada pemerintah kota (dan pemimpinnya) untuk mensolusikan masalah-masalah tersebut. Kita sebagai masyarakat juga punya tanggung jawab dan peluang untuk turut serta dalam upaya perbaikan kehidupan di wilayah sekitar kita. Banjir, sampah, kumuh, macet, kesemerawutan kota yg masih tergolong kota kecil, jukir liar merajalela, anak jalanan, pengemis, dan masih banyak permasalahan yg lain, itu semua bisa kita upayakan solusinya sedikit-sedikit dari kita sendiri. Misalnya, bisa bergabung atau mungkin menginisiasi gerakan bersama untuk memulai gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan ramah penduduk di sekitar kita.

Member DW Indonesia: Mbak Lenny…bgmn pendapatnya.ketika sy berfikir bhw..semua permasalahan di sebuah kota berawal dari mental ? Dan Saat ini yg lg marak adalah mental korupsi..bukan tdk mungkin gara2 korupsi menyebabkan segala permasalahan di kota…ambil contoh macet….knp macet..krn jln rusak dan..berlobang…knp jln rusak…?? krn mutu jln tdk bagus…knp kok tdk dibuat jalan yg bagus dan kuat sekalian..?? Krn dikorupsi mutu jln jd rendah…banjir jg bgtu…gejalanya hmpir mirip selain faktor alam jg faktor manusianya..jd permasalahanya komplek….sprt mata rantai saling terkait…salah satu kaitanya…adalah mental….(hny intermezzo aja).

Saya setuju bahwa permasalahan di kota itu kompleks, seperti mata rantai dan saling terkait. Oleh karena itu penyelesaiannya juga harus dilakukan melalui sinergi dari berbagai pihak. Kalau saya melihat suatu permasalahan kota bisa dua jenis penyebabnya..dari luar atau dari dalam. Mental korupsi adalah salah satu faktor internal (dari dalam) yg menyebabkan banyak permasalahan di kota, di antaranya kemacetan dan kualitas infrastruktur kota yang kurang baik.

Sisi bagusnya menurut saya, penyebab internal lebih mungkin untuk diatasi daripada penyebab eksternal, karena masih dalam lingkar kendali kita. Peran kita sebagai masyarakat ada dua, yaitu preventif dan kuratif. Yang preventif adalah menumbuhkan nilai integritas, kejujuran dan anti korupsi di tengah kehidupan kita. Lalu mencegah terjadi korupsi di pemerintahan dengan memilih wakil rakyat dan pemimpin yang berintegritas. Tindakan kuratif bisa dilakukan dengan cara melaporkan tindak korupsi kepada yang berwajib dan atau di portal pengaduan masyarakat yang telah disediakan oleh KPK berikut ini: https://www.lapor.go.id

Member DW Indonesia: menginisiasi gerakan bersama dalam masyarakat, bottom up…sangat bagus, adakah contoh buat kami, siapa tahu bisa ditiru…

Di Bandung banyak komunitas pemuda yang bergerak seperti itu, mengusahakan perbaikan dari bawah. Salah satu contohnya adalah Komunitas Aleut, yang punya banyak sekali kegiatan yg bermanfaat untuk masyarakat


Dari page DW Indonesia link

Anda mengidamkan kota tempat Anda bermukim merupakan wilayah yang ramah lingkungan dan ramah penduduk? Anda bersedia turut terlibat, berpartispasi mengembangkan kota idaman Anda?
Menurut Mba Lenny Rosadiawan langkah yang pertama harus diambil dan paling mudah adalah mulai dari diri sendiri, dan dari sekarang. Mba Lenny mengajak, mulai dari sekarang belajar untuk sedikit-sedikit mengubah gaya hidup menjadi lebih ramah lingkungan dan ramah penduduk. Kurangi sampah, pilah sampah dari rumah, gunakan bahan dan peralatan harian yang lebih ramah lingkungan, jadilah konsumen yang sadar lingkungan dengan memilih berbelanja di toko/tempat yang juga lebih ramah lingkungan. Tumbuhkan empati terhadap sekeliling dengan lebih banyak mengenal penduduk sekeliling dari latar belakang yang beragam. Sehingga kita bisa mengkontribusikan waktu, kesempatan, tempat, keahlian, barang-barang, atau apa saja untuk perbaikan keadaan di sekitar kita.